08 Maret 2008

PYTHIOSIS

PYTHIOSIS

Oleh:

Bahtiar Widya Kusuma kh/5716, Arya Satya Alloy kh/5719, Lastiko Harimurti kh/5690, Febrian Setyo Putro kh/5743, Muhammad Syaifudin kh/5573

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh aquatik patogen Pythium Insidiosum yang mana merupakan penyebab mycosis yang sering terjadi pada mamalia.mold ini tergolong kedalam Oomycetes.berdasar kasus yang terjadi yang pernah dilaporkan,setidaknya terdapat 2 bentuk penyakit ini,yaitu:Cutaneus/subcutaneus pythiosis dan gastrointestinal pythiosis.Pada pengecatan sampel yang terinfeksi dengan HE,tidak dapat dikenali dengan baik dan hanya dapat terlihat daerah yang terang yang dibatasi oleh dinding hifa.Penyakit ini dapat menyerang hewan dengan segala usia yang memiliki riwayat kontak dengan air yang tercemari oleh zoospora yang diproduksi oleh hifa Pythium insidiosum dan Lagenidium sp.


1.Cutaneus/subcutaneus Pythiosis

Saat hewan dengan luka kulit yang terbuka kontak dengan air yang tercemari oleh zoospora Pythium insidiosum,maka zoospora akan melakukan penetrasi kedalam kulit melalui luka tersebut.Selanjutnya zoospora yag telah berhasil masuk ke dalam kulit hospes,akan merusak dinding vesikel dan berenang lebih jauh kedalam tubuh untuk berikutnya akan melakukan kegiatan kemotaktik untuk menghancukan jaringan tubuh hospes.Kasus yang terjadi pada kuda,kulit yang terinfeksi terdapat bentukan seperti tumor dan berisi serosanguinosa discharge.Lesi ini biasanya terdapat pada limb dan ventral abdomen,tetapi juga dapat terjadi dibagian tubuh manapun.Kasus pada kuda yang telah kronis (lebih dari 4 minggu setelah infeksi),Pythium sp. Kemungkinan besar dapat menyebar sampai ke tulang.Lesi pada kulit yang terinfeksi juga mengandung “kunkers”dengan diameter 0,5-1,5 cm.Kunkers ini terdiri atas eosinofil yang telah mengalami nekrosis,hyfa dari Pythium sp.,dan pembuluh darah yang mengalami nekrosis.Tetapi kunkers ini tidak spesifik untuk Pythiosis.

2.Gastrointestinal Pythiosis

Kasus Gastrointestinal Pythiosis sering terjadi pada anjing.Anjing yang terserang penyakit ini akan mengalami enteritis granulomatosis yang kronis pada saluran pencernaannya,diare,vomit,anoreksia,depresi,dan kehilangan berat badan yang kronis.perubahan pada lambung dan duodenum merupakan organ yang paling terlihat pada anjing yang terinfeksi Gastrointestinal Pythiosis.Lesi pada lambung akan diikuti dengan adanya bentukan “coffe ground” pada abdomen dan pendarahan pada lambung tersebut.Ulcer yang juga terjadi pada gastrointestinal tract merupakan penyebab terjadinya diare berdarah pada kasus Gastrointestinal Pythiosis ini,baik berupa hematochezia maupun melena tergantung dari daerah ulcer itu berada dalam gastrointestinal tract.Selain itu lesi pada oropharyng juga terjadi pada infeksi penyakit ini.Pada kasus lesi oropharyng yang telah kronis akan menyebabkan megaesophagus akibat terjadinya hypersalivasi.Tetapi biasanya infeksi hanya ditemukan pada lymphonodus mesenterium saja.

Sumber Pustaka :

http:/www.google.com, Otomycosis Pythiosis in the Dog, Horse and Cat and Lagenidiosis in the Dog.mht
http:/www.google.com, Photo Gallery.mht

Pneumocystis Pneumonia : Pengobatan

Pneumocystis Pneumonia : Pengobatan

Oleh:

L.Rosalita Cory ( KH/5677), Anisa Yulistia Putri (KH/5759), Azza Ayu Akrima (KH/5761), Kheni Ashani (KH/5763), Amalia Krishna Dewi (KH/5774)

Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah penyakit paru mulai dari akut sampai subakut bahkan seringkali fatal, penyakit ini muncul sebagai infeksi oportunistik (IO). Infeksi oportunistik ini paling umum terjadi pada manusia dan hewan yang mengidap HIV-positif yang berkaitan dengan pemakaian immunosupresan dan penyakit sistem imunitas. PCP menjadi salah satu pembunuh utama Odha. Namun, saat ini hampir semua penyakit PCP dapat dicegah dan diobati.

PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh. Jamur tersebut disebut Pneumocystis carinii, tetapi para ilmuwan kini menggunakan nama Pneumocystis jiroveci. Pneumocystis jiroveci dianggap sebagai protozoa; peneltian yang dilakukan kemudian menunjukkan bahwa susunan DNA organisme tersebut mendekati kepada jamur.

Jamur Pneumocystis hampir selalu mempengaruhi paru, menyebabkan bentuk pneumonia (radang paru). Sebagian besar yang mengalami penyakit PCP menjadi jauh lebih lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan akan kembali mengalami penyakit PCP lagi. Tanda pertama PCP adalah sesak napas, dan batuk tanpa dahak dyspnea yang progresif, tachypnea dan cyanosis, demam mungkin tidak muncul.

Tanda-tanda auskultasi selain ronchi, gejala lain biasanya minimal bahkan tidak ada. Pada foto toraks secara khas menunjukkan adanya infiltrat interstitial bilateral. Pada pemeriksaan postmortem didapati paru-paru yang berat tanpa udara, septum alveoler yang menebal dan pada ruang alveoler didapati material seperti busa yang berisi parasit.

Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya agen penyebab dalam material yang berasal dari sikatan bronchial, biopsi paru terbuka dan aspirasi paru atau dari preparat apus lendir tracheobronchial. Otganisme yang diidentifikasi dengan pengecatan methenamine-silver, toluidine blue O, Gram-Weigert, cresyl-echt-violet atau metoda pewarnaan IFA. Sampai saat ini tidak ada metoda kultur pada media atau tes serologis yang memuaskan untuk dipakai secara rutin. Sistem kekebalan yang sehat dapat mengendalikan jamur ini


Pengobatan


Obat yang dipakai untuk mengobati PCP mencakup kotrimoksazol, dapson, pentamidin, dan atovakuon.

· Kotrimoksazol (TMP/SMX) adalah obat anti-PCP yang paling efektif. Ini adalah kombinasi dua antibiotik: trimetoprim (TMP) dan sulfametoksazol (SMX).

· Dapson serupa dengan kotrimoksazol. Dapson kelihatan hampir seefektif kotrimoksazol melawan PCP.

· Pentamidin adalah obat hirup yang berbentuk aerosol untuk mencegah PCP. Pentamidin juga dipakai secara intravena (IV) untuk mengobati PCP aktif.

· Atovakuon adalah obat yang dipakai orang pada kasus PCP ringan atau sedang yang tidak dapat memakai kotrimoksazol atau pentamidin.

Obat yang Paling Baik


Kotrimoksazol adalah obat yang paling efektif melawan PCP. Obat ini juga murah, dan dipakai dalam bentuk pil, tidak lebih dari satu pil sehari. Namun bagian SMX dari kotrimoksazol merupakan obat sulfa dan hampir separuh yang memakainya mengalami reaksi alergi, biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam.
Sering kali, bila penggunaan kotrimoksazol dihentikan sampai gejala alergi hilang, lalu penggunaan dimulai kembali, masalah alergi tidak muncul lagi. Reaksi alergi yang berat dapat diatasi dengan cara desensitisasi. Pasien mulai dengan dosis obat yang sangat rendah dan kemudian meningkatkan dosisnya hingga dosis penuh dapat ditahan. Mengurangi dosis dari satu pil sehari menjadi tiga pil seminggu mengurangi masalah alergi kotrimoksazol, dan tampak sama berhasilnya. Karena masalah alergi yang disebabkan oleh kotrimoksazol serupa dengan efek samping dari beberapa obat antiretroviral, sebaiknya penggunaan kotrimoksazol dimulai seminggu atau lebih sebelum mulai ART. Dengan cara ini, bila alergi muncul, penyebabnya dapat lebih mudah diketahui.

Dapson menyebabkan lebih sedikit reaksi alergi dibanding kotrimoksazol, dan harganya juga agak murah. Biasanya dapson dipakai dalam bentuk pil tidak lebih dari satu pil sehari. Namun dapson kadang kala lebih sulit diperoleh di Indonesia.

Pentamidin memerlukan kunjungan bulanan ke klinik dengan nebulizer, mesin yang membuat kabut obat yang sangat halus. Kabut ini dihirup secara langsung ke dalam paru. Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. anda dibebani harga obat tersebut ditambah biaya klinik. Pasien yang memakai pentamidin aerosol akan mengalami PCP lebih sering dibanding orang yang memakai pil antibiotik.

Sumber

http://www.odhaindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemid=28 http://www.pppl.depkes.go.id/catalogcdc/kamus_detail_klik.asp?abjad=P&id=2005111810220104830700&count=13&page=1 http://www.indonesiaindonesia.com/f/9936-pneumonia-pneumokistik

PENGOBATAN HISTOPLASMOSIS

PENGOBATAN HISTOPLASMOSIS

Oleh:
Fatkhanuddin Aziz KH/5524 , Dewi Mutisari KH/5644 , Yunida Firmasari KH/5727 , Intan Nur R. KH/5729 , Tri Ari Widiastuti KH/5737

Histoplasmosis adalah infeksi jamur paru-paru yang paling prevalen pada manusia dan hewan. Histoplasmosis ini termasuk mikosis sistemik. Histoplasmosis disebabkan oleh jamur Histoplasma capsulatum. Jamur ini bersifat dimorfik serta saprofit pada tanah. Histoplasma capsulatum tumbuh sebagai mold, diperkaya oleh alkalin dan substrat nitrogen. Jamur ini berada pada alam, seperti pada tanah kering atau tanah yang bercampur kotoran hewan terutama burung (Schnurrenberger et al., 2005).

Pengobatan histoplasmosis dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obat antara lain sebagai berikut :

  1. Amphotericin B, merupakan antibiotik polyene fungisidal yang digunakan untuk pengobatan pada kasus mycosis yang bersifat sistemik, fungal septicemi, infeksi fungi pada saluran perkencingan (Tennant,2002).

Dosis :

a. Anjing : 0,25-0,5 mg/kg dengan frekuensi 48 jam.

b. Kucing : 0,25-0,5 mg/kg dengan frekuensi 48 jam.

2. Ketoconazole, merupakan agen antifungal imidazole berspektrum luas. Bekerja dengan menghambat sintesis dari ergosterol pada membrane sel fungi, meyebabkan peningkatan permeabilitas membrane sel. Ketoconazole juga digunakan secara umum untuk pengobatan aspergillosis, candidiasis, blastomycosis, dermatophytosis dan sporotrichosis (Tennant,2002).

Dosis :

a. Anjing : 10-15 mg/kg dengan frekuensi 12-24 jam.

b. Kucing : 50 mg/kg dengan frekuensi 12-24 jam.

Ketoconazole diberikan bersamaan dengan terapi Amphotericine B namun ketoconazole diberikan tersendiri setelah kesehatan mulai meningkat.

3. Itraconazole, merupakan agen triazole antifungal. Bekerja dengan menghambat system sitokrom pada sintesis ergosterol di membrane sel fungi. Itraconazole bekerja lebih baik dengan tingkat selektivitas yang lebih tinggi terhadap enzim dependent sitokrom daripada ketoconazole (Tennant,2002).

Dosis :

a. Anjing : 5 mg/kg dengan frekuensi 24 jam per-oral

b. Kucing : 5 mg/kg dengan frekuensi 24 jam per-oral

4. Flucytosine

Efeknya sedikit untuk Histoplasma capsulatum. Kombinasi antara Flucytocine dan Ketoconazole dapat menimbulkan efek toxic apabila diberikan sebagai terapi pada kucing (Adam, 1995).

Ketoconazole pada manusia diberikan pada infeksi ringan-sedang. Untuk infeksi menyeluruh diberikan pengobatan sistemik dengan menggunakan Amphotericin B walau waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan cukup lama. Pada penderita AIDS yang terkena histoplasmosis memerlukan terapi pemeliharaan dengan Amphotericin B mingguan atau Ketoconazole oral (Brooks et al., 2005).

Penanggulangan dapat dilakukan dengan penyemproten formaldehid untuk membunuh Histoplasma capsulatum yang ada pada tanah (Brooks et al., 2005).

Daftar Pustaka

Adam. Richards. H., 1995. Veterinary pharmacology and therapeutics 7th edition. Iowa : iowa state university press.
Brooks, Geo F. Butel Janet S. Morse, Stephen A.. 2005. Mikrobiologi kedokteran, edisi pertama. Jakarta : salemba medika.
Schnurrenberger, Paul R. Hubbert, William T. 1991. Ikhtisar Zoonosis. Bandung : ITB.
Tennant, Bryn. 2002. BSAVA Small Animal Formulary 4th Edition. England: British Small Animal Veterinary Association.

CANDIDIASIS : DIAGNOSA DAN IDENTIFIKASI

CANDIDIASIS : DIAGNOSA DAN IDENTIFIKASI

Oleh:

Septa Arayu (KH/5660) Risa Ummami (KH/5708) Nusaibah Nuraniyati (KH/5744) Kristina Ragna Mulyati (KH/5776)

Candidiasis merupakan suatu penyakit yang disebakan oleh jamur spesies Candida, biasanya Candida albicans, yang bersifat akut atau sub akut. Penyakit ini biasanya menyerang daerah mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru. Penyakit ini dapat menyebabkan septicemia, endokarditis, atau meningitis


Candidiasis dapat menginfeksi hospes apabila terdapat faktor presdiposisi, endogen maupun eksogen. Faktor endogen dapat berupa perubahan pH dalam vagina, kegemukan, debility. Sedangkan fator eksogen mencakup hal-hal yang di luar tubuh, seperti iklim, suhu, kelembapan, dan kebiasaan dari setiap individu.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi tergantung dari bagian tubuh mana yang terkena.

  1. infeksi vagina (vulvovaginitis), gejalanya berupa keluarnya cairan putih atau kekuningan disertai rasa panas, gatal, dan kemerahan-merahan pada dinding luar vagina.
  2. infeksi penis, gejalanya berupa gatal, timbulnya bercak putih dan ruam merah bersisik di bagian glans penis yang terkadang disertai rasa nyeri.
  3. infeksi oral, sering menyerang pada bayi. Gejalanya berupa bercak putih pada mulut atau lidah. Bila bagian yang terkena bercak putih itu diangkat akan tampak dasar yang kemerahan dan erosive. Ada pun infeksi oral yang terjadi di sudut mulut dan menyebabkan retakan dan sayatan kecil yang berasal dari gigi palsu yang bergeser sehingga tumbuh jamur pada mulut tersebut. Infeksi ini disebut dengan Perleche.
  4. infeksi intertriginosa menyerang pada lipatan-lipatan tubuh, seperti ketiak. Gejalanya berupa bercak kemerahan, bersisik, basah
  5. infeksi granulomatosa , gejalanya berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning.

Diagnosa dari candidiasis biasanya berdasarkan dari gejala klinis yang ditimbulkan. Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan langsung dan pemeriksaan biakan.

1. Pemeriksaan langsung kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu.

Pemeriksaan biakan: bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dektrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37ºC, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.

2. Pemeriksaan biakan dilakukan dengan menanam bahan ke dalam agar dekstrosa glukosa Sabouroud, setelah itu dapat ditambahkan dengan antibiotic (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kemudian disimpan dalam suhu kamar 37ºC. Setelah 24-24 jam, koloni akan tumbuh.

Identifikasi untuk Candida albicans dilakukan dengan membiakkannya pada corn meal agar. Pada media ini, akan membentuk Chlamydoconidia dan pada serumnya akan membentuk germ tube.

Germ tube test merupakan test yang dilakukan untuk membedakan Candida albicans dengan candidia lainnya secara ekonomis dan efisien. 0,3 ml serum (bisa serum manusia, kelinci, domba) dicampur dengan sel yeast. Lalu diinkubasi dengan suhu 35-37 oC selama 2-3 jam. Serum diambil dengan usa dan diletakkan pada objek glass dan ditutup dengan deck glass. Bila terbentuk germ tube maka kesimpulannya adalah Candida albicans. Germ tube merupakan filament yang dibentuk oleh Blastoconidia dengan ciri khas tidak ada konstriksi pada perbatasan antara Germ Tube dan Blastoconida.

Selain itu, dapat dilakukan juga dengan diagnosa banding yang dapat dibagi berdasarkan tempatnya, yaitu

1. Candidiasis kutis lokalisata dengan :

a. Eritrasma dengan tanda adanya lesi dilipatan yang lebih merah, batas tegas, dan

pemeriksaan dengan sinar Wood positif.

b. Dermatitis intertriginosa

c. Dermatofitosis (tinea)

2. Candidiasis kuku dengan tinea unguium

3. Candidiasis vulvovaginitis dengan :

a. Trikomonas vaginalis

b. Gonore akut

c. Leukpplakia

d. Liken planus


Referensi :
http://www.medicine.ukm.my/wiki/index.php/Candidiasis http://www.fk.unair.ac.id/download/files/Mikologi-1.pdf http://fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php?attId=1046&page=Wicaksono%20Sigit%20Prasetyo. www.journal.unair.ac.id/login/jurnal www.aapredbook.aapublications.ink

COCCIDIOMYCOSIS: Patogenesis dan Patogenesitas

COCCIDIOMYCOSIS: Patogenesis dan Patogenesitas

oleh :

Dian agus sasongko (kh/5742), Andree noor syamsy (kh/5770), Syaiful hakim (kh/5676), Marsudi R P (kh/5717), Helmi erika R (kh/5643)

Coccidiomycosis disebabkan oleh Coccidioides immitis yang dahulu terkenal dengan coccidioidal granuloma. Penyakit ini tergolong sebagai sebuah kasus penyakit yang memiliki tingkatan tinggi hampir mencapai 90% bahkan lebih. Infeksi yang disebabkan oleh fungi ini diobservasi oleh Dickson beserta cox dan smith yang mengobservasi lesi dari coccidioidal granuloma pada autopsi tikus putih yang telah parah.

Dilaporkan bahwa hampir 60% orang dan hewan yang terserang oleh fungi ini tidak pernah merasakan sakit secara spesifik. Tetapi apabila dilakukan penelitian dengan menggunakan sample darah maka akan didapatkan infeksi dari jamur ini.

Yang lain 40% merasakan bahwa mereka merasakan sakit. Setelah terserang oleh spora dari fungi ini maka kurang lebih 1-3 minggu penderita akan mulai mengalami batuk, baik itu batuk kering ataupun batuk berdahak. Lalu setelah beberapa bulan batuk tersebut akan menjadi batuk yang spesifik dan memperlihatkan gejala-gejala tertentu pada sistem organ yang lain seperti pada paru-paru yang menyebabkan infeksi pada paru-paru. Setelah menginfeksi paru-paru lalu spora akan berpindah ke organ yang lain seperti tulang, mata, jantung, testicle, otak, spinal cord dan bahkan mencapai organ abdomen.

Orang atau hewan yang terkena penyakit ini tidak akan menular dengan individu yang lain. Infeksi hanya disebarkan melalui spora yang dilepaskan namun hanya sedikit spora yang dapat menginfeksi menjadi penyakit.

Orang atau hewan yang terkena penyakit ini tidak akan menular dengan individu yang lain. Infeksi hanya disebarkan melalui spora yang dilepaskan namun hanya sedikit spora yang dapat menginfeksi menjadi penyakit.


Daftar pustaka

http://www.world-of fungi.orgwww.medscape.com
www.saber.ula.ve
Burrows, Williams.1955. Text Book of Microbiology. W B Sounders Company, Philadelphia, London.

Pneumocystis Pneumonia: Diagnosis Laboratorik & Identifikasi

Pneumocystis Pneumonia: Diagnosis Laboratorik & Identifikasi

Oleh:

Agung Listyo KH/5627, Ayu Budi Handayani KH/5631, Agnya Sinung Suminar KH/5655, Lalita Prasiddhanti KH/5665, Yari Henni Pratiwi KH/5703

Identifikasi

Pneumonia Pneumokistik (Pneumokistosis) atau PCP adalah suatu infeksi paru-paru akibat jamur yang bernama Pneumocystis carinii.

PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh hampir setiap orang. Dahulu jamur tersebut disebut Pneumocystis carinii, tetapi para ilmuwan kini menggunakan nama Pneumocystis jiroveci, namun penyakit masih disingkatkan sebagai PCP. Pneumocystis carinii adalah organisme yang biasa hidup di paru-paru normal dan tidak menimbulkan gejala.
Tetapi pada orang-orang yang mengalami gan
gguan sistem kekebalan akibat kanker, jamur tersebut bisa menyebabkan terjadinya infeksi paru-paru.
Pneumokistosis biasanya memiliki perjalanan penyakit yang lebih lambat, yaitu batuk, demam dan sesak nafas selama berminggu-minggu. Kebany
akan penderita akan merasakan demam, sesak nafas dan batuk kering. Paru-paru tidak dapat menyalurkan oksigen dalam jumlah yang memadai ke dalam darah sehingga timbul sesak nafas yang berat. Sesak terutama timbul setelah penderita melakukan aktivitas.

Jamur Pneumocystis hampir selalu mempengaruhi paru, menyebabkan bentuk pneumonia (radang paru). Sebagian besar hewan yang mengalami penyakit PCP menjadi jauh lebih lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan akan kembali mengalami penyakit PCP lagi.


Pneumocystis carinii dinding selnya mengandung chitin sehingga menyerupaidinding sel jamur. Hanya saja ergosterol yang biasanya didapatkan pada dinding jamur tidak dijumpai, akibatnya Pneumocystis carinii tidak dapat diobati dengan antijamur yang mengikat ergosterol (seperti amphotericin B) atau yang memperlambat sintesa ergosterol (seperti imidazole dan triazole).

Infeksi baru menimbulkan gejala bila T helper cell berjumlah kurang dari 200 /millimeter cubic.

Pneumocystis carinii dapat menyebabkan infeksi di organ-organ lain selain paru. Pneumocystis carinii tidak bisa dikultur.

- Pneumocystis carinii dengan pewarnaan H&E

Tampak eksudat yang menyerupai bentukan seperti sarang tawon (honey comb).

- Pneumocystis carinii dengan pewarnaan GMS

Tampak eksudat di dalam alveoli yang berisi kista Pneumocystis carinii.

- Pneumocystis carinii dengan pewarnaan Giemsa

Dinding kista tidak tercat dengan cat giemsa tetapi yang terlihat hanya intracystic body. Intracystic body ini diduga sama dengan sporozoite.


Diagnosis

Diagnosis pneumonia ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis etiologik, berdasarkan pemeriksaan mikrobiologik dan / atau serologik sebagai dasar terapi yang optimal. Namun penemuan bakteri penyebab tidak selalu mudah oleh karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai, dan bila pemeriksaan mikrobiologik dapat dilakukan pun tidak selalu kuman penyebab dapat ditemukan. Oleh karena itu WHO mengembangkan pedoman klinik diagnosis dan tatalaksana pneumonia pada anak. Tujuannya ialah menyederhanakan kriteria diagnosis menjadi sejumlah kecil tanda fisik yang langsung dapat di deteksi, membuat suatu sistem klasifikasi penyakit dan menentukan dasar pemakaian antibiotik.

Diagnosis pneumonia dapat dilihat dari gejala yang timbul pada hewan dan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Informasi dari pemeriksaan dada dengan X-Ray, tes darah, kultur sputum juga dapat membantu. Diagnosis pneumonia sulit dilakukan bila hewan menderita penyakit lain. Kadang-kadang CT scan atau dengan tes lain mungkin diperlukan untuk membedakan pneumonia dengan penyakit lain.

Masa ikubasi antara 20-30 hari, diikuti gejala berupa anoreksia, temperatur turun, demam, tekanan darah menurun, denyut jantung meningkat, saturasi oksigen menurun, badan yang lemah, berat menurun, sesak napas, batuk kering, serta sianosis. Jamur dapat ditemukan dari sputum hewan yang menderita atau jaringan paru yang dilihat dengan pewarnaan Giemza di bawah mikroskop. Pemeriksan rontgen serta pemeriksaan dengan PCR akan memperkuat penentuan diagnosis ini.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.indonesiaindonesia.com/f/9936-pneumonia-pneumokistik/
http://mikrobia.wordpress.com/2007/03/08/pneumonia-pneumokistik/ http://www.clt.astate.edu/mhuss/phylum_ascomycota.htm http://www.klinikmedis.com/index.php?view=article&catid=36%3Aasthma&id=76%3Apneumonia&option=com_content&Itemid=73 Soedarto.2003.Zoonosis Kedokteran.Erlangga University Press:Surabaya



07 Maret 2008

KEMOTERAPI ANTIFUNGAL

KEMOTERAPI ANTIFUNGAL

Oleh :

Chaula Agustiza(kh/ 5642), Januar Dewi S (kh/ 5748), Afrina Hamalia (kh/ 5752), Nadia Kartikasari (kh/ 5762), Eva Yulianti (kh/ 5786)

Secara umum infeksi jamur dibedakan atas infeksi jamur sistemik/dalam tubuh dan infeksi jamur topikal/kulit. Akan tetapi dalam pengobatannya, ada obat jamur bisa digunakan baik sistemik maupun kulit. Kemoterapi tidak dibatasi dengan penggunaan satu obat. Biasanya kemoterapi berupa kombinasi dari obat yang bekerja bersama. Beberapa obat-obat antifungal, antara lain :

1. Amphotericin B

Amphotericin B adalah antibiotika polyene yang menghancurkan sel fungi dengan cara mengikatkan diri pada ergosterol pada membran plasma. Indikasi obat ini adalah sebagian besar mycosis sistemik, kecuali infeksi oleh Pseudallescheria boydii.


Cara pemberian :

a. Infus intravena

Obat dibuat dalam suspensi pada kadar kurang dari 0,1 mg per ml dalam 5 % dextrosa dalam air. Dosis amphotericin B biasanya dinaikkan pelan- pelan untuk meminimalkan toxisitas. Dosis yang lebih besar bisa menaikkan toxisitas tanpa memperbaiki efektivitas. Oleh karena itu, perlu adanya regimen selang waktu. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien serta memperkecil toxisitas renal.

b. Infus intraventriculer

Amphotericin B terkadang digunakan dalam pengobatan meningitis fungal, namun sering menimbulkan toxisitas yang berarti. Pemberian seperti ini hendaknya hanya digunakan setelah berkonsultasi dengan ahlinya.

c. Irigasi vesica urinaria

Berguna pada terapi cystitis fungal. Irigasi vesica urinaria secara kontinyu dengan amphotericin B sangat efektif.

Efek samping merugikan :

    • Demam
    • Menggigil
    • Nyeri kepala
    • Nausea
    • Vomittus
    • Anemia
    • Neuritis
    • Arachnoiditis yang bisa timbul pada pemberian obat secara intratekal

2. Flucytosine (5-FC)

Flucytosine (5-FC) digunakan dalam kombinasi dengan amphotericin B dalam terapi meningitis cryptococcal dalam jangka pendek untuk infeksi saluran kencing oleh candida.

    • Efek samping merugikan :

Penekanan sumsum tulang berkaitan dengan dosis yang diberikan terjadi pada kadar serum lebih besar dari 100 μg/ ml. Toxisitas gastrointestinal yang bervariasi mulai dari nausea, colitis dengan perforasi usus dan diarea.

3. Azole

Kebanyakan obat-obat yang termasuk golongan azole dimetabolisme didalam hati dan tidak memerlukan pengurangan dosis pada insufiensi ginjal.


a.
Ketoconazole (200-600 mg P O sekali sehari)

Adalah suatu imidazolie yang aktif pada pemberian secara oral. Efektif dalam pengobatan candidiasis mucocutaneus kronis, candidiasis esofagus, histoplasmosis pulmonalis, plastomicosis dan parakoksidiodomikosis. Obat ini tidak aktif terhadap Aspergilus spp. Daya tembusnya kedalam cairan cerebrospinal tidak dapat diandalkan. Ketozonazole juga digunakan terhadap infeksi jamur parah atau yang berkembang cepat pada pasien yang kekebalannya terganggu.

    • Pemberian.

Absorbsi tergantung keasaman lambung dan terganggu terhadap achlorhydria atau bagi merekan yang minum antasida atau antagonis reseptor H2. Kadar obat dalam serum diperiksa 2 jam setelahnya untuk melihat absorbsi.

    • Efek samping merugikan :

Nausea dan demam akibat turunnya tetosteron. Hambatan sintesis sterol adrenal terjadi pada penggunaan jangka panjang.


b.
Fluconazole

Fluconazole diabsorbsi lebih baik daripada ketokonazole, obat ini tersedia dalam preparat oral maupun intravena. Fluconazole terdistribusi luas dalam tubuh dan mudah menembus dalam cairan cerebrospinal.

    • Efek samping merugikan
Nyeri kepala, efek samping gastrointestinal, kenaikan transminase serum dan kelainan kemerahan kulit.


c.
Miconazole

Miconazole merupakan obat pilihan untuk infeksi Pseudallescheria. Miconazole mempunyai efektifitas baik dalam pengobatan coccydioidomycosis dan candidiasis sistemik, namun tidak efektif dalam Aspergillus dan Histoplasma spp.

  • Efek samping merugikan :

Plebitis, pruritus, nausea, fomitus, demam, kelainan kemerahan kulit dan kelainan saraf pusat. Toxisitas berat, namun jarang terjadi, meliputi anaphylaxis dan arrhythmia cordis.


Daftar Pustaka https://www.epocrates.com/pillimages/A1055050.jpg www.nfid.org/.../fungal_archive/june99table4.gif img.nextag.com/.../000/000/774/224/77422481.jpg www.offshore-fluconazole.com/images/product.jpg Woodley, M dan Alison Whelan.1992. Pedoman Pengobatan. Andi offset: Yogyakarta

ASPERGILLOSIS : ASPEK IMMUNOLOGIS

ASPERGILLOSIS : ASPEK IMMUNOLOGIS

Oleh :

Hafidh Nur Ubay (KH/5789), Kristanto B. A. (KH/5790), Joko Purnomo (KH/5784), Ditya Bayu P. (KH/5723), Barlian P. (KH/5664)

Infeksi jamur Aspergilosis yang merupakan penyakit mikosis visceral dan banyak dijumpai di daerah tropis ini disebabkan oleh Aspergillus fumigatus, Aspergillus niger atau spesies Aspergillus lainnya. Jamur-jamur yang dapat bersifat patogenik fakultatif ini sebenarnya banyak dijumpai sebagai saprofit pada tempat-tempat yang basah dan lembab, misalnya di dalam lubang galian tanah, di ruang bawah tanah, pada luka-luka yang terbuka, bahkan juga di dalam makanan.





Jamur Aspergilllus ini di bawah mikroskop menunjukkan gambaran khas berupa konidiofor yang merupakan pembesaran di ujung hifa. Dalam jaringan, eksudat atau dahak, jamur berbentuk filament bersepta. Pada biakan Agar suboraud yang dieramkan pada suhu 370-400 C, akan tumbuh koloni berwarna kelabu kehijauan dengan bentukan seperti kubah yang berada di tengah konidiofor.

Individu normal ada mekanisme yang menolak infeksi olek konidia Aspergillus yang terhirup. Studi pada tikus dapat ditunjukkan bahwa makrofag alveoli berfungsi sebagai pencegah germinasi conidia, tetapi tidak dapat membunuh secara cepat. Di sisi lain sel mucociliary efektif untuk membersihkan conidia dari paru-paru.

Respon imun humoral di pasien dengan ABPA dan Aspergilloma dapat dipelajari dengan baik. Serum dari pasien ABPA menunjukkan level yang tinggi dari lgE. Menurut Brummung dkk, peningkatan level dari IgE dan IgG merupakan bukti kenaikan dari level semua isotope pada pasien yang disebabkan oleh Aspergillus. Kurup dkk. , dapat menunjukkan peningkatan level IgG1 dan IgG2 pada pasien ABPA. Kondisi yang sama juga terjadi pada pasien Aspergilloma. Perbedaan respon imun humoral disebabkan oleh partisipasi dari bermacam-macam antigen. Serum antibody pasien ABPA bereaksi dengan Ag-protein dari Aspergillus fumigatus. IgG1 san IgG2 biasanya ada di serum penderita ABPA. Pada pasien Aspergilloma reaksi terjadi dengan Ag-karbohidrat dan glikoprotein dan IgG1 biasanya lebih banyak daripada IgG2. hal ini bias dipakai untuk membedakan ABPA dan Aspergilloma berdasarkan responImmunoregulator.

Ag-Aspergillus fumigatus dapat menginduksi proliferasi limfosit pada pasien ABPA jika dibandingkan dengan pasien yang positif pada reaksi tes kulitnya dengan Aspergillus fumigatus. Antigen ini juga dapat menginduksi trsnsformasi limfosit pada pasien ABPA. Analisis dari darah perifer terhadap fenotipik limfosit, menunjukkan peningkatan yang nyata T-helper atau Cell-mediumte cysstotoksikity juga meningkat pada pasien ABPA dan Aspergilloma.

Kebanyakan dari penelitian awal meliputi efek dari antigen. Filtrate dari kultur dan ekstrak miselium telah diketahui mengandung sejumlah komponen antigen yang mampu menimbulkan reaksi di serum pasien. Antigen ini meliputi protein heterogenous, karbohidrat dan glikoprotein.

Tes serologi amatlah penting untuk membantu diagnosis yang efektif dari berbagai tipe Aspergillosis. Berbagai tes dengan sensitifitas yang berbeda dikembangkan terus untuk mendeteksi antibody dalam pasien Aspergillosis.

a. Immunodiffusion (ID)

Merupakan teknik yang digunakan secara luas untuk serodiagnosis dari Aspergillosis. Antigen yang digunakan dalam ID berupa ekstrak dari miselium atau filtrate dari kultur yang bebas dari substansi C-reactive.

b. Immunogold Assay (IA)

Digunakan untuk mendeteksi IgG dan IgE spesifik dari Aspergillus fumigatus.

c. RIA

Antigen disediakan oleh disrupsi ultrasonic dari miselium Aspergillus fumigatus yang diikuti oleh presipitasi ammonium sulfat. Bagian antigen radiolabeled trichloroaceticacid-soluble digunakan untuk mendeteksi antibody dari Aspergillus fumigatus.

d. ELISA

Tes ini sangat sensitive dan dapat dipercaya. ELISA umumnya digunakan dengan sukses untuk mendeteksi IgG terhadap Aspergillus fumigatus dalam serum penderita Aspergillosis, tetapi teknik ini tidak sensitive untuk mendeteksi IgE atau sublas IgG-spesifik yang konsentrasinya rendah.

Sumber :

Budiyanto, Moch. Agus Krisno.2004.Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press
Soedarto.2003. Zoologi Kedokteran. Surabaya: Airlangga University Press
www.njmoldinspection.com/asper
gillus/brain9.jpg
www.michigan.gov
www.njmoldinspection.com/.../images/vet10.jpg
www.aapredbook.aappublications.org/week/009_12.jpg




Candida: Apa yang Perlu Anda Ketahui?

Candida: Apa yang Perlu Anda Ketahui?

Oleh:

Chrissilia DH (5636), Ardhy Widyotomo (5696), Dyahayu Risdasari (5746), St. Bagus Ardhana (5768), Alfian Galuh S (5772)


Did u know…???


Apa sie, kandidiasis itoe..???

Kandidiasis itu … suatu infeksi pada kulit atau selaput lendir bersifat akut atau subakut yang disebabkan oleh jamur genus Kandida.


Apa ajah yaa contoh-contoh Kandida..???

C. albicans, C. tropicalis, C. krusei, C. parapsilosis, C.dubliniensis, C. lusitaniae, C. glabrata, C. albicans


Kayak apa sie kandida itoe..???

Sel jamur kandida berbentuk bulat, lonjong.

Oia,, Spesies-spesies kandida dapat dibedakan loh …

berdasarkan kemampuan fermentasi dan asimilasi terhadap larutan glukosa, maltosa, sakarosa, galaktosa dan Iaktosa.

Jamur kandida juga dapat hidup sebagai saprofit tanpa menyebabkan kelainan apapun di dalam berbagai alat tubuh baik manusia maupun hewan.


Akh,, belum ada bayangan nie!!!

Upz,, santai … Nie gambarnya …


Contoh gambar kandidiasis yang lain … Cari sendiri yaa!!Hahahaha ….

Sekian dari kami,. Bila ada kritik, saran, celaan, komentar, parsel, bingkisan, atau kiriman pulsa silakan langsung hubungi kami…


THANX to :

Tuhan Yang Maha Esa atas semua karunia-Nya.

Drh. Sidna yang kami cinta atas tugas mulia yang diberikan.

Lobi Anatomi, tempat kami mencurahkan ide-ide cemerlang kami untuk artikel ini.

Dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. We love U all…


Daftar Pustaka

http://fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php?attId=1052&page=Gilang%20Liesmelati%20K.

http://www.usu.ac.id/id/files/pidato/ppgb/2005/ppgb_2005_mansur_amirsyam_nasution.pdf.

www.google.com

Hollander H. Infectious diseases: mycotic. Dalam: Tierney LM, McPhee SJ, Papadakis MA, penyunting. Current medical diagnosis & treatment; edisi ke-34. Connecticut: Prentice-Hall International, 1995; 1276-7.

Daries SF. Fungal pneumonia. Med Clin N Am 1994; 78: 1049-51. Cermin Dunia Kedokteran No. 114, 1997 27

HISTOPLASMOSIS PATOGENESIS DAN PATOGENESITAS

HISTOPLASMOSIS: PATOGENESIS DAN PATOGENESITAS

Oleh:

Fx. Satria P. (5630), Renard Fabian A. (5634), Fajar Budi Lestari (5639), M. Ibrahim Desem (5662), Dibya Pradipta (5666)

Histoplasmosis disebabkan oleh Histoplasma capsulatum. Fungi ini termasuk fungi dimorfik. Fungi dimorfik adalah fungi yang dapat memiliki dua bentuk, yaitu kapang dan yeast. Histoplasma capsulatum sering ditemukan di dalam tanah dan hidup di kayu-kayu yang membusuk. Sering ditemukan juga di dalam tanah yang terkontaminasi oleh feses kelelawar dan burung. Hal inilah yang menyebabkan Histoplasma dapat bermultiplikasi dengan baik karena tanah yang terkontaminasi feses kelelawar dan burung memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Histoplasmosis banyak ditemukan di Amerika, namun dapat juga dijumpai juga di negara-negara beriklim sedang dan tropis, termasuk Indonesia.

Infeksi dari Histoplasma adalah eksogenus, biasanya melalui inhalasi (lewat udara). Tetapi, jarang ditemukan lewat ingesti (saluran pencernaan) dan lesi. Secara klinis histoplasmosis adalah penyakit yang berhubungan dengan sistem retikuloendothelial. Infeksi primernya ada di saluran pernapasan. Kasus penyakit dilaporkan pernah terjadi pada anjing, sapi, primata, kucing, kuda, domba, babi, manusia, dan hewan-hewan liar.

Beberapa lesi yang ditemukan pada anjing dan kucing adalah ulserasi usus. Kemungkinan dapat terjadi pembengkakan dan peradangan pada hati, limpa, dan nodus limfatikus yang disebabkan oleh lesi yang seperti tubercle.

Histoplasmosis adalah infeksi dengan bermacam gejala dan tingkat keseriusan. Biasanya berpengaruh pada paru-paru. Gambaran klinik histoplasmosis bervariasi dan tidak khas, sering tersamar dengan penyakit lain, sehingga diagnosis baru ditegakkan setelah penderita meninggal atau penyakit mencapai stadium lanjut.

Berdasarkan tingkat keseriusannya, Histoplasmosis dapat dibagi menjadi:

1. Histoplasmosis Akut

Pada bentuk ini, gejala biasanya timbul dalam waktu 3-21 hari setelah penderita menghisap spora jamur. Penderita akan merasakan sakit disertai demam dan batuk. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam waktu 2 minggu tanpa pengobatan dan kadang bisa menetap sampai selama 6 minggu. Bentuk ini jarang bersifat fatal.

2. Histoplasmosis Kavitasi Kronis

Bentuk ini merupakan infeksi paru-paru yang timbul secara bertahap dalam waktu beberapa minggu, menyebabkan batuk dan kesulitan bernafas. Gejala-gejala lainnya adalah penurunan berat badan, malaise (merasa tidak enak badan) dan demam ringan. Kebanyakan penderita akan pulih tanpa pengobatan dalam wajtu 2-6 bulan. Tetapi, gangguan pernapasan bisa bertambah buruk dan beberapa penderita mengalami batuk darah yang kadang-kadang jumlahnya banyak sekali. Kerusakan paru-paru atau masuknya bakteri ke paru-paru pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Sumber:

- Burrows, William et al. 1956. Textbook of Microbiology 16th edition. Philadelphia and London: W. B. Saunders Company.
- Carter, G. R. & Darla J. Wise. 2004. Essestials of Veterinary Bacteriology and Mycology. Iowa: Iowa State Press.

- http://spiritia.or.id/
- http://www.medicastore.com/
- http://www.portalkalbe.com/





06 Maret 2008

Patogenesis dan Patogenesitas Dermatophytosis

Patogenesis dan Patogenesitas Dermatophytosis

Oleh:

Titin Fitroh Nurhuda (KH/5687), Poppy Fauzia (KH/5745), Tri Rahmayanti (KH/5749), Utiya Akmalati (KH/5757) & Fatma Amanati Lazuardina (KH/5787)

Dermatophytosis merupakan masalah kesehatan masyarakat karena bersifat zoonosis. Biasanya, tertular dari hewan kesayangan seperti anjing, kucing, kelinci, hamster, dan lain-lain. Karena pergaulan yang dapat terjadi akibat kontak langsung dengan hewan kesayangannya itu yang umumnya carrier.

Agen penyebab dermatophytosis anjing 70% adalah Microsporum canis, 20% oleh Microsporum gypseum, 10 % oleh Trichophyton mentagrofit.

Jamur yang berhasil melekat di kulit mungkin tidak mampu menyebabkan patologik, karena terhapus dari kulit atau tidak mampu bersaing dengan mikroorganisme yang lain. Derajad keasaman kulit juga mempengaruuhi pertumbuhan jamur. Apabila jamur dapat tumbuh di dalam keratin, pertumbuhannya bersifat mengarah ke dalam karena toksin yang dihasilkan menyebabkan jaringannya hidup, epidermis, dan dermis yang kaya pembuluh darah, berusaha melawan allergen yang berbentuk toksin tersebut sehingga terjadi radang kulit. Apabila reaksi kulit berlebihan, maka jamur tidak dapat tumbuh lagi.

Patogenesitas dermatophytosis pada hewan lebih banyak diderita oleh hewan muda daripada yang dewasa. Mungkin hal ini disebabkan oleh pH kulit yang lebih tinggi pada hewan muda, karena hewan dewasa kulitnya sudah memiliki innate immunity. Di beberapa daerah (Temanggung, Wonosobo, dan sekitarnya) juga ditemukan kasus ringworm pada manusia akibat memelihara ternak yang dikurung dalam suatu kandang dan kotorannya dibiarkan menumpuk sampai beberapa hari di dalam salah satu bagian ruangan rumah mereka.

Perubahan klinis dimulai dengan eritema, kemudian diikuti dengan eksudasi, panas setempat, dan terjadinya alopecia. Karena jamur tidak tahan dalam suasana radang, jamur berusaha meluas ke pinggir lesi, hingga akhirnya terbentuk lesi yang berupa lesi yang bulat atau sirkuler berwarna coklat kekuningan, dengan bagian tengahnya mengalami kesembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Dharmojo. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

anonim. 2000. http://kucingkita.com/images/articles/ringwormic.jpg

PENGOBATAN VAGINAL CANDIDIASIS

PENGOBATAN VAGINAL CANDIDIASIS

Maria Andriyana NWA (KH/5702), Bagus Brahmanto Aji(KH/5730)
Yuliana Mantilia A. (KH/5738) & Maharani Asmara P. (KH/5739)


Candidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh candida. Candida bersifat invasif atau patogen bila daya tahan tubuh hospes terganggu. Salah satu yang sering terjadi adalah vaginal candidiasis (VC).

Hampir sebagian besar kasus vaginal candidiasis (VC) ter­jadi karena organisme candida yang berasal dari tu­buh si penderita itu sendiri. Jarang sekali terjadi penularan VC, semisal melalui hubungan seksual. Dalam keadaan normal, candida biasa bersarang di mulut, sa­luran gastrointestinal, dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ta­pi, saat terjadi ketidakseimbangan, misalnya saat keasaman va­gina berubah atau terjadi perubahan keseimbangan hormonal, candida bisa berkembang secara berlebihan sehingga menimbulkan gejala. Pada vagina, candida merupakan penyebab iritasi atau vaginitis.
Beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengobati candidiasis antara lain :

1. Flukonazol
Farmakologi Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation jamur yang sangat selektif. Selanjutnya kehilangan sterol normal berkorelasi dengan 14 alpha-methyl sterols pada jamur dan mungkin bertanggung jawab atas aktivitas fungistatik flukonazol.Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp.
Indikasi Vaginal candidiasis
Dosis & Cara Dosis tunggal 150 mg. Modifikasi dosis perlu
Pemberian dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal. Flukonazol bisa menyebabkan kerusakan hati pada kasus jarang. Fungsi hati harus dimonitor setelah beberapa hari penggunaan obat.
Kehamilan Penggunaan pada masa kehamilan dan
dan menyusui menyusui tidak direkomendasikan
Interaksi Hati-hati pada penggunaan bersama dengan oabat seperti fenintoin, siklosporin, teofilin, dan koumadin.
Efek Samping Sakit kepala, nyeri abdominal, diare, dan pu­sing. Ruam pada kulit bisa terjadi tapi jarang.
Nama dagang Diflucan

2. Itrakonazol
Farmakologi Itrakonazol merupakan antijamur sintetik triazol yang bekerja menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sintesis ergosterol yang tergantung pada CYP450, yang merupakan komponen vital untuk membrane sel jamur. Itrakonazol efektif melawan sejumlah jamur, termasuk candida albicans.
Indikasi Vulvovaginal candidiasis
Dosis & Cara 200 mg PO 2 kali sehari selama 1 hari, atau
Pemberian 200 mg satu kali sehari selama 3 hari.
Interaksi Inhibitor potent CYP3A4; antacid bisa mengurangi absorpsi itrakonazol; edema bisa terjadi pada pemberian bersamaan dengan calcium channel blockers (misalnya amlodipine, nifedipine); meningkatkan konsentrasi plasma tacrolimus dan siklosporin saat digunakan dosis tinggi; rhabdomyolysis bisa terjadi pada pemberian bersamaan dengan HMG-CoA reductase inhibitor (lovastatin atau simvastatin); pemberian bersamaan dengan cisapride bisa menyebabkan abnormalitas irama jantung dan kematian; meningkatkan kadar digoksin; pemberian bersamaan bis ameningkatkan kadar midazolam, alprazolam, atau triazolam; fenintoin dan rifampin bisa mengurangi kadar itrakonazol.
Kontra Indikasi Hipersensitif; pemberian bersamaan dengan cisapride, alprazolam, atau triazolam
Efek Samping Mual, muntah, pusing, sakit kepala, diare, hipokalemia, peningkatan transaminase.
Nama Dagang Sporanox

3. Terkonazol
Farmakologi Terkonazol secara in vitro tampak memiliki aktivitas fungisidal melawan Candida albicans. Aktivitas antifungal juga terlihat pada jamur lain. Nilai konsenterasi hambat minimum (KHM) terkonazol terhadap sebagian besar Lactobacillus spp yang biasa dijumpai dalam vagina adalah >128 mcg/mL; oleh karena itu bakteri menguntungkan ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan.
Bagaimana modus kerja farmakologi terkonazol yang sesungguhnya masih belum pasti. Tapi diperkirakan aktivitas antifungi timbul melalui menganggu permiabilitas membrane sel jamur. Sampai saat ini belum ada laporan resistensi terhadap C. albicans.
Pemberian intravaginal terkonazol, absorpsinya berkisar 5-8% pada 3 hysterectomized subjects dan 12-16% pada 2 non-hysterectomized subject dengan tubal ligation.
Pemberian intravaginal 0,8% terconazole 40 mg sekali sehari selama 7 hari pada individu normal, konsenterasi plasma rendah dan meningkat bertahap hingga mencapai puncak (rata-rata 5,9 ng/mL atau 0,006 mcg/mL) 6,6 jam setelah pemberian.
Indikasi Sediaan krim dan supositoria diindikasikan un­tuk pengobatan lokal vulvvaginal candidiasis.
Dosis & Cara Supositoria vaginal (terconazole 80 mg)
Pemberian diberikan sekali sehari sebelum tidur selama tiga hari berturut-turut.
Krim vagina terconazole 0,4% diberikan dengan aplikator sekali sehari sebaiknya malam hari, selama 7 hari berturut-turut. Krim vagina 0,8% diberikan sekali sehari selam 3 hari berturut-turut.
Interaksi Kadar estradiol (E2) dan progesterone tidak berbeda signifikan saat krim vagina terconazole 0,8% diberikan pada wanita sehat yang menggunakan kontrasepsi oral dosis rendah.
Efek Samping Iritasi, meningkatkan sensitifitas, rasa terbakar pada vulva atau vagina, sakit kepala, nyeri saaat menstruasi, nyeri pada kemaluan wanita, nyeri pada perut dan badan, demam, dan kedinginan.
Nama Dagang Terazol
DAFTAR PUSTAKA